17 Mei 2020 - 10:55
Ketika Guterres Peringatkan Dampak Sengketa Cina-AS pada Upaya untuk Melawan Corona

Wabah Corona terus mengambil korban di dunia dan ada kekhawatiran bila proses ini terus berlanjut, masalah ekonomi dan sosial akan meningkat di berbagai belahan dunia. Untuk itu, para pejabat internasional telah menekankan perlunya kerja sama dan saling membantu dalam perang melawan virus Corona, dan memperingatkan akan meningkatnya ketegangan dan perselisihan atas kerja sama internasional dalam perang melawan virus ini.

Menurut Kantor Berita ABNA,Dalam hal ini, perselisihan antara Cina dan Amerika Serikat adalah masalah serius yang telah diperingatkan oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres.

"Konflik yang mendalam antara Cina dan Amerika Serikat akan menghentikan upaya internasional bersama untuk melawan Corona," kata Guterres.

Penyebaran Corona di dunia terus mengambil korban. Sementara berbagai negara berusaha untuk membuka kembali dan keluar dari aturan karantina dengan mengambil langkah-langkah khusus dan takut dampak ekonomi dan sosial dari wabah virus, tetapi apa yang telah sangat ditekankan dalam krisis ini adalah bantuan dari negara-negara dan kerjasama internasional untuk mengendalikan penyakit ini dan mencoba menghilangkan efek negatif disektor ekonomi dan sosial di seluruh dunia.

Penekanan itu muncul ketika Amerika Serikat dan pemerintahan Trump, yang telah dikritik oleh publik karena salah urus dan ceroboh dalam perang melawan virus Corona, telah mengkritik Cina dalam beberapa pekan terakhir dan menyalahkan negara ini sebagai penyebab dari penyebaran penyakit Covid-19 di dunia. Tidak sampai di situ, Trump juga menuduh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendukung Cina dan mengumumkan penangguhan pendanaan terhadap lembaga ini. Selama beberapa hari terakhir, Donald Trump bahkan berbicara tentang memutuskan semua hubungan dagang dengan Cina.

"Trump ingin mengalihkan perhatian dari salah kelola pemerintahnya terhadap virus Corona dan menyalahkan Cina. Trump akan berjalan dalam lima bulan ke depan untuk mengikuti pemilu presiden dan tidak ingin disalahkan untuk lebih dari 36 juta orang Amerika yang kehilangan pekerjaan. Trump ingin mengorbankan Cina untuk menutupi kesalahan manajemennya," kata wartawan Mohammed al-Menshavi.

Pendekatan pemerintah AS di puncak penyebaran virus Corona telah menuai banyak kritik. Banyak pejabat di berbagai negara mengecam langkah Trump sebagai memperburuk krisis saat ini. Dalam pandangan mereka, langkah Trump untuk mengadopsi kebijakan unilateralis yang mengabaikan kepentingan global telah memperburuk krisis tidak hanya di dunia, tetapi juga di dalam negeri AS.

Senator New Jersey Robert Menendez, seorang anggota Demokrat terkemuka dari Komite Hubungan Luar Negeri Senat, menekankan, "Jika kita berharap untuk mengakhiri wabah coronavirus di Amerika Serikat, maka perlu bagi pemerintah AS untuk mengambil bagian dalam semua keputusan yang diambil secara global untuk mengendalikan krisis Covid-19. Dengan mengadopsi pendekatan seperti itulah, Amerika Serikat telah menghadapi krisis global selama 100 tahun terakhir."

Krisis yang terus berlanjut telah memaksa Trump untuk mempertimbangkan kembali keputusannya, sehingga secara implisit menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan memotong anggaran Organisasi Kesehatan Dunia, tetapi bahwa Washington akan membayar jumlah yang sama dengan Cina.

Dalam sikap terbarunya, Sekretaris Jenderal PBB menegaskan kembali sikapnya dalam menghadapi Corona dengan solidaritas internasional, menyebut kemunduran dan melemahnya institusi internasional sebagai momok.

"Sangat penting bahwa kita keluar dari krisis ini dengan kekuatan dan bahwa misi penguatan institusi internasional harus dilakukan sesegera mungkin. Kita membutuhkan lembaga internasional dengan kekuatan dan koordinasi lebih untuk menghadapi tantangan bersama," ungkap Guterres.

Komunitas internasional menghadapi masa sulit mengatasi virus corona dan dampaknya pada periode pasca-Corona, dan tampaknya tidak ada satu negara pun yang akan dapat mengendalikan situasi sendiri dan mengatasinya dengan mengadopsi kebijakan unilateralis. Penekanan Guterres dan sikap mundur AS juga harus dilihat dalam konteks ini.